Saturday, October 22, 2016

Arsitektur Indonesia - Cafe Batavia


..Menengok kembali pada masa penjajahan Belanda di Indonesia 

Indonesia merupakan negara dengan tingkat keragaman suku dan budaya yang tinggi. Luas wilayah dan bermacam-macamnya penduduk merupakan salah satu penyebab keragaman yang ada di Indonesia. Negara ini juga kaya akan sejarah, baik itu dari sebelum kemerdekaan hingga sesudah kemerdekaan.
Keragaman yang ada ini memberikan sumbangan besar terhadap keragaman corak arsitektur yang ada di beberapa daerah. Seperti daerah ujung Pulau Sumatera yang kaya akan arsitektur islami dengan masjid-masjid yang berdiri khas akibat pengaruh kesultanan islam yang ada jauh sebelum kemerdekaan. Contoh lainnya adalah Pulau Bali dengan corak Hindu yang kental akan kesakralannya dan juga masyarakatnya yang menjaga keseimbangan lingkungan.
Suasana salah satu jalanan di Kota Tua






Selain dari keragaman suku dan budaya, corak arsitektur yang ada di Indonesia juga dipengaruhi dari sejarah Indonesia sebelum masa kemerdekaan. Masa dimana Indonesia masih dimonopoli oleh Belanda selama 350 tahun lamanya karena sumber daya rempah-rempah yang melimpah dan menjanjikan pundi-pundi bagi pialangnya. Jakarta sebagai salah satu pintu masuk bagi orang asing yang merantau dan menjajah Indonesia ini menjadi salah satu kota yang memiliki keragaman corak arsitektur kolonial, atau zaman dimana Indonesia belum merdeka. Peninggalan zaman kolonial yang terkenal di Kota Jakarta adalah kawasan Kota Tua.
Kota Tua Jakarta, oud Batavia, atau Batavia Lama merupakan sebuah kawasan khusus dengan wilayah seluas 1,3 km2 melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Pada awal pembangunannya, kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa yang kental dengan penggunaan benteng, dinding kota, dan juga kanal. Selesai dibangun pada 1650, Batavia pun menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Hingga pada 1942 pendudukan Jepang, Batavia berubah nama menjadi Jakarta dan pada 1972 setelah Indonesia merdeka, kawasan ini resmi menjadi kawasan situs warisan oleh dekrit dari Gubernur Jakarta yang menjabat kala itu, Ali Sadikin. Dekrit ini dikeluarkan untuk melindungi sejarah arsitektur kawasan Kota Tua.

"This is a must visit if you are in Jakarta. It is amazingly beautiful and I wish we had more time to take in the ambience and to try the food. A visit to the toilets is a must - pretty nice. Staff were lovely and drinks were not all that cheap but it was well worth experiencing this beautiful oasis. "
Visitor from Melbourne, Australia who visited Cafe Batavia on June 2013 (TripAdvisor) - cafebatavia.com

Cafe Batavia, Kota Tua, Jakarta
Adalah Cafe Batavia, sebuah objek wisata di kawasan Kota yang menarik untuk diabadikan selain untuk dikunjungi. Objek ini merupakan objek pertama yang dapat dibilang menarik perhatian pengunjung oleh karena corak arsitekturnya yang sangat mencerminkan arsitektur khas kolonial. Dengan bukaannya yang khas, mampu menarik perhatian pengunjung kawasan Kota Tua sore itu yang sedang menikmati sore indah di Kota Tua.
Dibangun pada 1805, bangunan ini dibangun pada masa kolonial Belanda di Indonesia. Pada tahun ini, tahun 1800-an, Indonesia disebut dengan Nederland Indische (Hindia Belanda). Sehingga bangunan yang dibangun pada masa ini memiliki ciri bangunan masa kolonial Belanda. Namun, orientasi bangunannya bukan lagi pada bangunan tradisional Belanda. Tetapi lebih ke neo-klasik yang lain dengan gaya arsitektur nasional Belanda kala itu. Pada awalnya, bangunan ini merupakan salah satu bangunan kantor administrasi VOC yang berada di kawasan Batavia. Cafe Batavia pun termasuk pada bangunan kolonialisme yang lebih cenderung ke neo-klasik. Hingga pada 1990, seorang berkebangsaan Perancis, Paul Hassan, membeli bangunan ini dan menjadikannya art gallery.
Gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada 1800-an sering disebut juga dengan the Empire Style/the Dutch Colonial Villa. Seperti yang telah diungkapkan, gaya arsitektur ini dipengaruhi joleh arsitektur neo-klasik terjemahan bebas yang sedang berkembang di negara Eropa kala itu. Belanda yang merupakan salah satu negara di Benua Eropa tentu lah terkena dampak arsitektur neo-klasik, sehingga mereka yang dari Belanda mengaplikasikan gaya itu di Indonesia. Ciri-ciri arsitektur kolonial pada Cafe Batavia; simetris dengan lantai atas ditutup dengan atap perisai, tembok tebal ciri khas bangunan lama yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dan terdapat barisan kolom bergaya Yunani. Meskipun begitu, bangunan ini juga beradaptasi dengan iklim dan cuaca lokal yang berbeda dengan negara asalnya, Eropa.
Bukaan pada Cafe Batavia, Jakarta
Hal paling menarik perhatian kali pertama menengok pada bangunan ini adalah bukaan pada lantai dua yang cenderung berjumlah banyak. Bukaan jendela pada lantai dua sesuai dengan karakteristik bangunan kolonial yang sesuai dengan arsitektur tropisme yang memiliki banyak bukaan. Jumlah bukaan didukung pula oleh ukuran bukaan yang cenderung lebar dengan ketinggian yang cenderung lebih tinggi daripada bukaan jendela pada umumnya. Kesan hangat juga didapatkan dari bingkai kayu jendela yang mengekspos materialnya.
Meskipun bangunan ini berada di daerah tropis, namun penggunaan overstek pada lantai atas tidak lah terlalu lebar, cenderung kurang menutupi untuk menghindari tampias dari hujan yang dapat masuk melalui bukaan jendela yang lebar pada lantai dua. Selain itu untuk menghindari tampias dari hujan ke lantai satu menjadikan cafe ini harus menggunakan awning yang terlihat berwarna hijau dengan tag cafe berada di depannya, “Cafe Batavia”. Namun perlu diakui bahwa penggunaan awning ini menambah kesan vintage pada bangunan. Meskipun kesan vintage pada lantai satu yang berupa jendela dan pintu kaca dengan aksen grid dari logam tidak dapat terlihat secara jelas pada foto.
Sedangkan untuk suasana yang tercipta dari bangunan ini merupakan suasana klasik yang romantis dan cocok untuk digunakan sebagai tempat untuk melakukan dinner romantis. Suasana ini didukung oleh penggunaan lampu-lampu berwarna kuning yang menguatkan kesan lama vintage yang menghipnotis pada bangunan. Warna-warna serta bentuk bangunan ini mampu menghidupkan kesan lama zaman kolonial yang hidup di Indonesai ratusan tahun lamanya. Sehingga orang awam arsitektur pun akan langsung setuju dengan label arsitektur kolonial yang dipegang oleh bangunan Cafe Batavia.
Dari kejauhan terlihat sosok utuh bangunan yang menggunakan atap perisai. Atap perisai ini merupakan atap yang banyak digunakan pada masa kolonial yang dipengaruhi oleh gaya neo-klasik yang melanda Eropa kala itu. Namun karena gaya neo-klasik ini diterjemahkan secara bebas, maka tiba di Indonesia, pun gaya ini juga diterjemahkan secara bebas dan dipadukan dengan iklim dan cuaca lokal. Penggunaan atap perisai ini salah satunya.
Selain itu, tembok bangunan juga terlihat tebal dengan kesan kokoh yang menjadi ciri khas bangunan lama buatan masa Hindia Belanda. Tembok yang tebal ini juga diperkuat oleh kolom-kolom gaya Yunani yang menambah kekuatan bangunan. Kolom bangunan terlihat terkesan menyangga lantai atasnya. Dengan pada lantai atas terdapat deretan jendela kaca yang menampilkan kesan lama vintage bangunan. Kesan lama ini juga diperkuat dengan penggunaan sign box yang menggunakan lampu neon untuk menarik pengunjung yang sedang melintas di samping bangunan Cafe Batavia.

No comments:

Post a Comment

Arsitektur Indonesia - Cafe Batavia

..Menengok kembali pada masa penjajahan Belanda di Indonesia  Indonesia merupakan negara dengan tingkat keragaman suku dan budaya yang ...