..Menengok kembali pada masa penjajahan Belanda di Indonesia
Indonesia merupakan negara dengan tingkat keragaman suku dan budaya yang
tinggi. Luas wilayah dan bermacam-macamnya penduduk merupakan salah satu
penyebab keragaman yang ada di Indonesia. Negara ini juga kaya akan sejarah,
baik itu dari sebelum kemerdekaan hingga sesudah kemerdekaan.
Keragaman yang ada ini memberikan sumbangan besar terhadap keragaman
corak arsitektur yang ada di beberapa daerah. Seperti daerah ujung Pulau
Sumatera yang kaya akan arsitektur islami dengan masjid-masjid yang berdiri
khas akibat pengaruh kesultanan islam yang ada jauh sebelum kemerdekaan. Contoh
lainnya adalah Pulau Bali dengan corak Hindu yang kental akan kesakralannya dan
juga masyarakatnya yang menjaga keseimbangan lingkungan.
![]() | ||||||||
| Suasana salah satu jalanan di Kota Tua |
Selain dari keragaman suku dan budaya, corak arsitektur yang ada di
Indonesia juga dipengaruhi dari sejarah Indonesia sebelum masa kemerdekaan.
Masa dimana Indonesia masih dimonopoli oleh Belanda selama 350 tahun lamanya
karena sumber daya rempah-rempah yang melimpah dan menjanjikan pundi-pundi bagi
pialangnya. Jakarta sebagai salah satu pintu masuk bagi orang asing yang
merantau dan menjajah Indonesia ini menjadi salah satu kota yang memiliki
keragaman corak arsitektur kolonial, atau zaman dimana Indonesia belum merdeka.
Peninggalan zaman kolonial yang terkenal di Kota Jakarta adalah kawasan Kota
Tua.
Kota Tua Jakarta, oud Batavia, atau
Batavia Lama merupakan sebuah kawasan khusus dengan wilayah seluas 1,3 km2
melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Pada awal pembangunannya, kota ini
dirancang dengan gaya Belanda Eropa yang kental dengan
penggunaan benteng, dinding kota, dan juga kanal. Selesai dibangun pada 1650,
Batavia pun menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Hingga pada 1942
pendudukan Jepang, Batavia berubah nama menjadi Jakarta dan pada 1972 setelah
Indonesia merdeka, kawasan ini resmi menjadi kawasan situs warisan oleh dekrit
dari Gubernur Jakarta yang menjabat kala itu, Ali Sadikin. Dekrit ini
dikeluarkan untuk melindungi sejarah arsitektur kawasan Kota
Tua.
"This is a must visit if you are in Jakarta. It is amazingly beautiful
and I wish we had more time to take in the ambience and to try the food. A
visit to the toilets is a must - pretty nice. Staff were lovely and drinks were
not all that cheap but it was well worth experiencing this beautiful oasis.
"
Visitor from Melbourne, Australia who visited Cafe Batavia on June 2013
(TripAdvisor) - cafebatavia.com
Adalah Cafe Batavia, sebuah objek wisata di kawasan Kota yang menarik
untuk diabadikan selain untuk dikunjungi. Objek ini merupakan objek pertama
yang dapat dibilang menarik perhatian pengunjung oleh karena corak
arsitekturnya yang sangat mencerminkan arsitektur khas kolonial. Dengan
bukaannya yang khas, mampu menarik perhatian pengunjung kawasan Kota Tua sore
itu yang sedang menikmati sore indah di Kota Tua.
Dibangun pada 1805, bangunan ini dibangun pada masa kolonial Belanda di
Indonesia. Pada tahun ini, tahun 1800-an, Indonesia disebut dengan Nederland Indische (Hindia Belanda).
Sehingga bangunan yang dibangun pada masa ini memiliki ciri bangunan masa
kolonial Belanda. Namun, orientasi bangunannya bukan lagi pada bangunan
tradisional Belanda. Tetapi lebih ke neo-klasik yang lain dengan gaya
arsitektur nasional Belanda kala itu. Pada awalnya, bangunan ini merupakan
salah satu bangunan kantor administrasi VOC yang berada di kawasan Batavia.
Cafe Batavia pun termasuk pada bangunan kolonialisme yang lebih cenderung ke
neo-klasik. Hingga pada 1990, seorang berkebangsaan Perancis, Paul Hassan,
membeli bangunan ini dan menjadikannya art
gallery.
Gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada 1800-an sering disebut juga
dengan the Empire Style/the Dutch
Colonial Villa. Seperti yang telah diungkapkan, gaya arsitektur ini
dipengaruhi joleh arsitektur neo-klasik terjemahan bebas yang sedang berkembang
di negara Eropa kala itu. Belanda yang merupakan salah satu negara di Benua
Eropa tentu lah terkena dampak arsitektur neo-klasik, sehingga mereka yang dari
Belanda mengaplikasikan gaya itu di Indonesia. Ciri-ciri arsitektur kolonial
pada Cafe Batavia; simetris dengan lantai atas ditutup dengan atap perisai,
tembok tebal ciri khas bangunan lama yang dibangun pada masa pemerintahan
Hindia Belanda, dan terdapat barisan kolom bergaya Yunani. Meskipun begitu,
bangunan ini juga beradaptasi dengan iklim dan cuaca lokal yang berbeda dengan negara
asalnya, Eropa.
![]() |
| Bukaan pada Cafe Batavia, Jakarta |
Hal paling menarik perhatian kali pertama menengok pada bangunan ini
adalah bukaan pada lantai dua yang cenderung berjumlah banyak. Bukaan jendela
pada lantai dua sesuai dengan karakteristik bangunan kolonial yang sesuai
dengan arsitektur tropisme yang memiliki banyak bukaan. Jumlah bukaan didukung
pula oleh ukuran bukaan yang cenderung lebar dengan ketinggian yang cenderung
lebih tinggi daripada bukaan jendela pada umumnya. Kesan hangat juga didapatkan
dari bingkai kayu jendela yang mengekspos materialnya.
Meskipun bangunan ini berada di daerah tropis, namun penggunaan overstek
pada lantai atas tidak lah terlalu lebar, cenderung kurang menutupi untuk
menghindari tampias dari hujan yang dapat masuk melalui bukaan jendela yang
lebar pada lantai dua. Selain itu untuk menghindari tampias dari hujan ke
lantai satu menjadikan cafe ini harus menggunakan awning yang terlihat berwarna hijau dengan tag cafe berada di
depannya, “Cafe Batavia”. Namun perlu diakui bahwa penggunaan awning ini menambah kesan vintage pada bangunan. Meskipun kesan vintage pada lantai satu yang berupa
jendela dan pintu kaca dengan aksen grid dari logam tidak dapat terlihat secara
jelas pada foto.
Sedangkan untuk suasana yang tercipta dari bangunan ini merupakan suasana
klasik yang romantis dan cocok untuk digunakan sebagai tempat untuk melakukan
dinner romantis. Suasana ini didukung oleh penggunaan lampu-lampu berwarna
kuning yang menguatkan kesan lama vintage
yang menghipnotis pada bangunan. Warna-warna serta bentuk bangunan ini
mampu menghidupkan kesan lama zaman kolonial yang hidup di Indonesai ratusan
tahun lamanya. Sehingga orang awam arsitektur pun akan langsung setuju dengan
label arsitektur kolonial yang dipegang oleh bangunan Cafe Batavia.
Dari kejauhan terlihat sosok utuh bangunan yang menggunakan atap perisai.
Atap perisai ini merupakan atap yang banyak digunakan pada masa kolonial yang
dipengaruhi oleh gaya neo-klasik yang melanda Eropa kala itu. Namun karena gaya
neo-klasik ini diterjemahkan secara bebas, maka tiba di Indonesia, pun gaya ini
juga diterjemahkan secara bebas dan dipadukan dengan iklim dan cuaca lokal.
Penggunaan atap perisai ini salah satunya.
Selain itu, tembok bangunan juga terlihat tebal dengan kesan kokoh yang
menjadi ciri khas bangunan lama buatan masa Hindia Belanda. Tembok yang tebal
ini juga diperkuat oleh kolom-kolom gaya Yunani yang menambah
kekuatan bangunan. Kolom bangunan terlihat terkesan menyangga lantai atasnya.
Dengan pada lantai atas terdapat deretan jendela kaca yang menampilkan kesan
lama vintage bangunan. Kesan lama ini
juga diperkuat dengan penggunaan sign box
yang menggunakan lampu neon untuk menarik pengunjung yang sedang melintas
di samping bangunan Cafe Batavia.



No comments:
Post a Comment